Produk Ahlussunnah

Buletin Jum'at

Edisi ke-31, 17 Agustus 2007
PEDOMAN DALAM BERINTERAKSI DENGAN ULAMA

Oleh Asatidz Ahlussunnah







Anugrah Allah subhaanahu wa ta’ala kepada ummat Islam
Diantara nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada ummat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam (kepada mereka). Allah Ta’ala berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Qs. Ali ‘Imraan: 164)
Maka diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah diantara nikmat yang terbesar bagi umat ini.
Dan dari kesempurnaan nikmat tersebut adalah, Allah Ta’ala jadikan para ulama mewarisi ilmu-ilmu dari Nabi yang mulia ini Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sehingga merekalah sang pewaris Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang berperan dalam menyampaikan (risalah) kepada umat, mengajarkan, mengarahkan, dan menjelaskan kepada mereka batasan-batasan yang halal dari yang haram.
Apabila ulama adalah pewaris ilmu para nabi, mereka pun mewarisi kemuliaan yang selayaknya, dan kedudukan dalam syariat, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi umat untuk mentaati mereka dalam hal ketaatan kepada Allah, dan bersikap loyal, menghormati, tunduk, dan mengambil ilmu dari mereka. Seperti inilah dahulu para salaful ummat (generasi pertama umat ini).
Dahulu ulama adalah pemimpin mereka, pengasuh majlis-majlis, rujukan ummat dalam segala hal, dan sandaran dalam masalah-masalah yang besar. Manusia seluruhnya mengakui kedudukan dan kehormatan ulamanya.

Kondisi ummat di akhir zaman
Kemudian datanglah generasi yang sedikit ilmunya dan sedikit pula ulamanya. Dan sangat jarang terdapat pada mereka imam-imam yang besar. Dan sedikit dari manusia yang mengakui kedudukan sisa-sisa kaum salaf (ulama). Mereka tidak mendudukkan ulama pada tempat yang semestinya, akan tetapi bersikap dengan sikap berbeda-beda:
1- Sekelompok orang melihat ulama seperti halnya manusia biasa.
Ulama dimata mereka tidak memiliki kedudukan dalam syariat, sehingga mereka tidak menghormati ulama. Kelompok ini memiliki kesamaan dengan kaum Khawarij yang tidak mengakui hak para pemimpin ulama dari kalangan shahabat Radhiyallahu ‘Anhu. Hal ini berakibat kepada kerugian mereka, mereka sesat dan menyesatkan. Mereka memecah belah agamanya menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan kelompoknya.
2- Sekelompok orang yang mengangkat para ulama diatas kedudukan yang semestinya diberikan kepada mereka.
Kelompok ini bersikap taklid buta kepada ulama dalam perkara agama mereka. Dalil bukan ukuran mereka, yang menjadi ukuran adalah perkataan Syaikh (guru/ustadz). Dari sini mereka memiliki kesamaan dengan Rafidhah yang menganggap imam-imam mereka ma’shum, dan memberikan kepada imam-imam mereka kedudukan yang tidak dapat dicapai walau oleh nabi yang diutus, dan tidak pula oleh malaikat yang dekat kedudukannya dengan Allah Ta’ala. Mereka pun terpecah menjadi beberapa golongan sesuai jumlah syaikh yang ada. Setiap kelompok bersikap fanatik dengan pendapat syaikh-nya dan mencampakkan perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
3- Sekelompok orang yang mengakui kedudukan ulama, akan tetapi mereka tidak menyikapi para ulama tersebut sebagaimana layaknya manusia yang bisa salah dan memiliki hawa nafsu, bahkan kebalikannya.
Kapan kelompok ini mendapati kesalahan pada seorang ulama mereka langsung membesar-besarkan kesalahan tersebut dan menyebar luaskannya dikalangan manusia.
Terdapat pada kelompok ini dua hal yang saling bertolak belakang:
- Mengagungkan ulama dengan menempatkan mereka pada posisi orang yang tidak mungkin melakukan kesalahan.
- Menginjak kehormatan ulama dengan membicarakan mereka apabila mereka keliru, menyebarkan kesalahan mereka dan melukai mereka. Hal ini mereka lakukan apabila kesalahan tersebut tidak disengaja, adapun apabila kesalahan tersebut disengaja maka keadaannya tentu lebih besar lagi.
Maka wajib menghormati mereka tanpa ifrath dan tafrith serta mendudukkan mereka pada posisi yang selayaknya.

Bagaimana Mengenali Ulama?
1. Ulama adalah: orang-orang yang Allah Ta’ala jadikan sebagai sandaran manusia dalam perkara fikih, ilmu dan urusan-urusan dunia dan agama.
2. Ulama adalah: fuqaha’ul islam (ahli fikih islam), lisan-lisan mereka adalah tempat kembalinya fatwa, mereka adalah orang-orang pilihan yang berhak untuk meng-istimbath hukum-hukum, dan menetapkan batasan-batasan halal dan haram
3. Ulama adalah: para pemimpin agama mereka mendapatkan kedudukan mulia ini dengan kesungguhan, kesabaran dan keyakinan yang sempurna,
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (Qs. As-Sajdah: 24)
Dan dahulu dikatakan, “Dengan ilmu dan keyakinan diraih kepemimpinan di dalam agama”.
4. Ulama adalah: pewaris para nabi, yang mewarisi dari mereka ilmu, membawanya di dada-dada mereka, dan –secara garis besar- ilmu-ilmu tersebut terlihat dalam kesehari-harian mereka. Dan kepada ilmu itulah mereka menyeru sekalian manusia.
“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang besar”. (HR Abu Daud dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu).
Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
“Yang mengemban ilmu ini dari setiap generasinya, orang-orang yang adil. Mereka menepis dari agama ini penyimpangan orang-orang yang kelewat batas dan penyelewengan orang-orang yang batil dan ta’wilan orang-orang jahil”. (HR Al Baihaqi dari Ibrahim bin Abdurrahman Al Hudzari dan At-Thabrani di dalam Musnad Asy-Syamiyyin dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dan dihasankan oleh sebagian ahlul ilmi).
5. Ulama adalah: segolongan dari ummat ini yang pergi demi agama Allah Ta’ala, kemudian mereka menunaikan kewajiban berdakwah, dan memberikan peringatan,
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Qs. At-Taubah: 122)
6. Ulama adalah: pemberi petunjuk kepada manusia, yang tidaklah berlalu suatu zaman kecuali mereka ada diantara manusia sampai datangnya hari kiamat. Mereka adalah pemimpin At-Thaifah Al Manshurah (golongan yang menang) sampai hari kiamat, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
“Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang menegakkan ajaran Allah. Tidak mencelakakan mereka orang-orang yang mencelakakan mereka, atau menyelisihi mereka sampai datangnya keputusan Allah, dan mereka menang diantara manusia”
Al Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Al Imam Al Bukhari berkomentar tentang thaifah (golongan) yang dimaksud: “Mereka adalah para ulama”.

Beberapa Pedoman Dalam Mengenali Ulama
1. Ulama dikenali dengan ilmunya
Ilmu adalah pembeda yang membedakan mereka dari selainnya. Apabila manusia tidak mengetahui (hukum suatu perkara) mereka menyampaikan dengan ilmu yang diwarisi dari imam para rasul yaitu Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
2. Ulama diketahui dengan kekokohan pijakan mereka ketika merebak syubhat
Ketika banyak pemahaman-pemahaman yang tergelincir dan tidak selamat kecuali orang-orang yang Allah Ta’ala anugrahkan kepada mereka ilmu, atau orang-orang yang mengikuti ahli ilmu. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu)”. (Qs. An-Nisaa’: 83)
Al Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya fitnah apabila datang diketahui oleh semua ulama dan apabila telah pergi diketahui oleh semua orang jahil”. Dinukil dari Wujubul Irtibath
3. Ulama juga dapat dikenal dengan jihad mereka, dan dakwah mereka kepada jalan Allah Ta’ala
Mereka mengorbankan waktunya (karena Allah Ta’ala), dan mereka bersungguh-sungguh dijalan Allah Ta’ala.
Al Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Yang tersisa dari para ulama, mereka menyeru orang-orang sesat kepada petunjuk dan bersabar dari gangguan mereka. Dengan Kitabullah mereka menghidupkan (hati-hati) yang telah mati dan membuka orang-orang yang buta dengan cahaya Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Berapa banyak pembunuh-pembunuh Iblis yang sudah mereka hidupkan dan berapa banyak orang-orang sesat mereka tunjuki. Alangkah besar jasa mereka kepada manusia dan alangkah buruk balasan orang-orang kepada para ulama. Mereka menepis dari Kitabullah penyimpangan orang-orang yang kelewat batas dan penyelewengan orang-orang yang batil dan ta’wilan orang-orang jahil”. Dinukil dari Wujubul Irtibath dan lihat Ar-Radd ‘Ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyah hal 6.
4. Ulama dikenal dengan ibadah dan rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala
Karena mereka orang yang paling tahu tentang Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Qs. Faathir: 28)
Dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Ilmu tidak dinilai dengan banyaknya hadits seseorang, karena ilmu adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala”. Lihat Wujubul Irtibath
5. Ulama dikenal dengan jauhnya mereka dari dunia dan kesenangannya
Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah berkata, “Al Hasan mengatakan: sesungguhnya faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia, cinta kepada akhirat, mengerti akan agamanya dan selalu beribadah kepada Rabb-nya”. Dinukil dari Wujubul Irtibath
6. Diantara tanda-tanda seseorang dikatakan alim (berilmu) adalah adanya kesaksian dari guru-gurunya bahwa ia seorang yang alim
Al Imam Malik Rahimahullah berkata, “Tidak boleh seseorang menganggap dirinya pantas memegang suatu urusan sebelum bertanya kepada orang yang lebih alim darinya, dan saya tidak berfatwa sampai saya bertanya kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id lalu keduanya memerintahkanku demikian, dan seandainya keduanya melarangku pasti tidak aku lakukan” (Dinukil dari Ibnu Hamdan dalam Sifat Al Fatwa wa Al Mustafti (7)).
Dan beliau juga berkata, “...tidak setiap orang yang ingin duduk dimasjid menyampaikan hadist dan berfatwa dibolehkan duduk sebelum ia bertanya kepada orang-orang shalih dan mereka yang memiliki keutamaan dan pandangan dimasjid (ulama). Apabila mereka menganggap orang tersebut ahli dalam hal itu, maka boleh baginya untuk duduk, dan saya tidak duduk sampai tujuh puluh orang ulama bersaksi bahwa saya layak untuk itu”. (Dinukilkan dari Ibnu Farhun dalam Ad-Diibaaj (21), dan lihat perkataan Ibnu Hamdan dalam Sifat Al Fatwa wa Al Mustafti (7))



..:: Jumlah pengguna yang sedang online : 6 ::..
Design created 2007 by
Ahlussunnah-Jakarta Team
Without Copyright.
 
Produk Ahlussunnah Studio Da'wah Buku Tamu Kirim Pesan